Tuesday, July 11, 2017

Critical Success Factor (Faktor Kritikal Sukses) Manajemen Project

Pembangunan TI di lingkungan pemerintah sedikit banyak kegagalan proyek TI masih sering terjadi. Salah-satu pemicunya, belum digunakannya IT Project Management dengan benar. Komunikasi dan peran top leader menjadi faktor pendukung mulusnya suatu proyek TI. Sejauh ini, pada umumnya tingkat keberhasilan proyek TI masih rendah.
Merujuk survey pertengahan tahun 1990-an lalu, hanya sekitar 10% proyek pengembangan software yang diselesaikan sesuai dengan budget dan jadwal yang telah ditentukan sebelumnya. Data lain dari Standish Group Study (CHAOS) menemukan bahwa pada 1995 hanya 16,2% proyek TI yang sukses, sementara lebih dari 31% proyek TI dibatalkan sebelum proyek rampung. Belum lagi, banyak ditemukan proyek TI yang mengalami pembengkakan cost.
Bila disimak, salah-satu pemicu kegagalan proyek TI adalah dilupakannya IT project management – atau manajemen proyek TI. Padahal mengingat investasinya yang mahal, proyek TI dituntut oleh pemilik proyek agar berjalan mulus, tanpa cacat. Di sinilah manajemen proyek TI menjadi penting.
Critical Success Factors (CSF) adalah suatu kondisi bisnis untuk suatu unsur yang mana diperlukan bagi suatu organisasi atau proyek untuk mencapai misinya. Sebagai contoh, suatu CSF untuk suatu kesuksean Teknologi Informasi (IT) proyek adalah keterlibatan pemakai. Critical Success Factors juga harus mempertimbangkan antara lain:
  • Uang: arus kas positif, pertumbuhan pendapatan, dan margin keuntungan.
  • Masa depan : Memperoleh distributor dan/atau pelanggan baru.
  • Kepuasan Pelanggan: Bagaimana kepuasan mereka?
  • Quality: Seberapa baik produk dan jasa mu?
  • Produk atau layanan pengembangan : Apa yang baru yang akan meningkatkan bisnis dengan pelanggan dan menarik orang-orang baru?
  • Modal intelektual: Terus meningkat dan harus menguntungkan.
  • Hubungan strategis: Sumber bisnis baru, produk dan pendapatan di luar.
  • Atraksi Karyawan Dan Ingatan: Kemampuan untuk meluaskan jangkauanmu.
  • Ketahanan: Kemampuan pribadi untuk menjaga agar semua berjalan dengan baik

Critical Success Factors ini sebagai bahan analisa rekomendasi terhadap aliansi strategis. Parameter-parameter yang perlu menjadi bahan pertimbangan agar aktifitas bisnis bisa berjalan secara maksimal dan output dihasilkan sesuai yang diharapkan. Sehingga bisa dihasilkan suatu output project yang sesuai ekspektasi dan tepat.


Pengertian SCRUM

Scrum adalah kerangka kerja proses yang telah digunakan untuk mengelola pengembangan produk kompleks semenjak awal tahun 1990-an. Scrum bukanlah sebuah proses ataupun teknik untuk mengembangkan produk akan tetapi Scrum sebuah kerangka kerja di mana di dalamnya anda dapat memasukkan beragam proses dan teknik.
Keuntungan kerangka kerja adalah lebih fleksibel untuk menangani banyak hal yang belum terprediksi, kompatibel terhadap berbagai macam praktik-praktik wajib yang berbeda-beda di tiap organisasi, dan mendorong SDM di dalamnya untuk menjadi pribadi yang dewasa.
Scrum bisa didefinisikan juga sebagai model sebuah proses rekayasa Agile atau pengembangan perangkat lunak dengan pendekatan empiris, bertahap dan berulang. Hal tersebut didasarkan pada pandangan bahwa proyek pengembangan software modern terlalu kompleks untuk diprediksi secara konsisten. Scrum mencoba untuk mengurangi kompleksitas dengan tiga prinsip yaitu Transparansi, Verifikasi dan Adaptasi.
Transparansi artinya Kemajuan dan hambatan sebuah proyek setiap hari dan seterusnya terpantau oleh semuanya, Verifikasi artinya dengan interval teratur dilakukan penyerahan dan penilaian terhadap fungsi produk yang dikembangkan. Adaptasi berarti persyaratan untuk produk bukan merupakan harga mati, tetapi setelah diserahkan dievaluasi kembali dan disesuaikan jika perlu.
Tujuan menggunakan Scrum adalah kecepatan penyelesaian produk yang berkualitas tinggi dengan biaya yang efektif, namun sesuai dengan visi awal yang telah dirumuskan. Pelaksanaan konversi dari visi ke dalam sebuah produk tidak disusun sangat detil dalam daftar persyaratan yang kemudian dieksekusi secara bertahap, melainkan dengan formulasi yang jelas dari perspektif pengguna berupa User Stories. Pelaksanaannya, kemudian dilakukan dalam interval dua sampai empat minggu secara berulang dan bertahap berupa sebuah Sprint. Pada akhir setiap sprint adalah penyerahan fungsi (software) yang “selesai” sebagai peningkatan produk yang berpotensi untuk diserahkan kepada pelanggan.